I may appear like a freak, but heck what others say, at least I'm true to myself.
I may seem too dramatic, but damn what people say, at least I express my pure emotions.
I may sensed as too sensitive, but duh, at least I'm empathetic and have faith in humanity.
I could be just perfect, but still, society will keep judging.
So let them be. The closest people who really knows me, accept me.
Anyway, they who mind don't matter and they who matters don't mind!!!
Besides, tho... if nobody got me, I GOT ME.
And that, ladies and gentleman, is enough.
Ginna Leviana Elda
Rabu, 10 Februari 2016
Minggu, 24 Januari 2016
Ginna Leviana Elda lahir di Indonesia.
Ginna Leviana Elda lahir sebagai sosok yang sensitif, empatik, dan artistik.
Ginna Leviana Elda berusaha menjadi pandai berbicara, bergaul, dan jenaka.
Begitu banyak arus listrik di dalam neuron-neuron Ginna Leviana Elda yang menjalar ke dalam otaknya, menggabungkan ide, imajinasi, fakta, dan emosi untuk dirubah menjadi huruf-huruf.
Dari huruf-huruf dipanjangkan menjadi kata-kata.
Dari kata-kata dilanjutkan menjadi kalimat-kalimat.
Dari kalimat-kalimat dikembangkan menjadi paragraf-paragraf.
Dari paragraf-paragraf inilah Ginna Leviana Elda duduk di kamarnya, tegak dan tegang dengan pikiran yang melebihi luas kamar itu sendiri.
Ginna Leviana Elda melebihi paragraf-paragraf yang ia jabarkan untuk mendeskripsikan dirinya sendiri, karena hati dan pikirannya tiada batas.
Mereka bilang the sky is the limit. Aku, Ginna Leviana Elda, akan menciptakan tangga imajinatif yang terbuat dari tulisan-tulisan di blog ini untuk mencapai langit, batas tertinggi akan apa yang mungkin terjadi.
Berbicara mengenai langit menjadi batas tertinggi... pada hari Kamis di suatu penghujung akhir tahun 2008, Ginna Leviana Elda terpana melihat UFO terbang di atas kepalanya. Nampaknya benar yang pernah ia dengar... dunia yang kita tahu hanyalah dunia yang kita lihat. People fear what they do not know.
Tapi biarlah itu menjadi suatu post khusus di blog ini suatu hari nanti.
Ginna Leviana Elda lahir sebagai sosok yang sensitif, empatik, dan artistik.
Ginna Leviana Elda berusaha menjadi pandai berbicara, bergaul, dan jenaka.
Begitu banyak arus listrik di dalam neuron-neuron Ginna Leviana Elda yang menjalar ke dalam otaknya, menggabungkan ide, imajinasi, fakta, dan emosi untuk dirubah menjadi huruf-huruf.
Dari huruf-huruf dipanjangkan menjadi kata-kata.
Dari kata-kata dilanjutkan menjadi kalimat-kalimat.
Dari kalimat-kalimat dikembangkan menjadi paragraf-paragraf.
Dari paragraf-paragraf inilah Ginna Leviana Elda duduk di kamarnya, tegak dan tegang dengan pikiran yang melebihi luas kamar itu sendiri.
Ginna Leviana Elda melebihi paragraf-paragraf yang ia jabarkan untuk mendeskripsikan dirinya sendiri, karena hati dan pikirannya tiada batas.
Mereka bilang the sky is the limit. Aku, Ginna Leviana Elda, akan menciptakan tangga imajinatif yang terbuat dari tulisan-tulisan di blog ini untuk mencapai langit, batas tertinggi akan apa yang mungkin terjadi.
Berbicara mengenai langit menjadi batas tertinggi... pada hari Kamis di suatu penghujung akhir tahun 2008, Ginna Leviana Elda terpana melihat UFO terbang di atas kepalanya. Nampaknya benar yang pernah ia dengar... dunia yang kita tahu hanyalah dunia yang kita lihat. People fear what they do not know.
Tapi biarlah itu menjadi suatu post khusus di blog ini suatu hari nanti.
Langganan:
Postingan (Atom)